Tampilkan postingan dengan label Budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan

Tari Kecak, Tarian Dari Pulau Bali Yang Mendunia


Siapa yang tidak tahu Tari kecak khas daerah Bali. Berapa tahun yang lalu tarian ini pernah ditarikan sekitar lima ribu orang dan tercatat sebagai rekor dunia.  Lantas siapa yang menciptakan dan untuk apa diciptakan tarian tersebut.

Tari kecak biasa disebut tari Cak atau Api (Fire Dance) merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cendrung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya menggambarkan seni peran dari Lakon Pewayanganseperti Rama Sita dan tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan, odalan dan upacara lainnya.

Tari kecak dicptakan oleh Wayan Limbak dan Walter Spies seorang pelukis dari Jerman sekitar tahun 1930. Sebenarnya tari Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Tidak sulit untuk mengambil definisi atau kenapa disebut tari Kecak. Ketika penari laki-laki menarikan tarian tersebut, terdengar kata cak…cak…cak dari sanalah kata Kecak diambil.

Tarian kecak ini tidak seperti tarian lainnya dari Bali, tari kecap tidak menggunakan alat bantu musik apapun, justru alunan tercipta dari teriakan “cak…cak…cak” yang membentuk alunan musik murni dan kincringn yang diikatkan di kaki para penari.

Perkembangan Tari Kecak Di Bali

Tari kecak di Bali mengalami terus mengalami perubahan dan perkembangan sejak tahun 1970-an. Perkembangan yang bisa dilihat adalah dari segi cerita dan pementasan. Dari segi cerita untuk pementasan tidak hanya berpatokan pada satu bagian dari Ramayana tapi juga bagian bagian cerita yang lain dari Ramayana.

Kemudian dari segi pementasan juga mulai mengalami perkembangan tidak hanya ditemui di satu tempat seperti Desa Bona, Gianyar namun juga desa desa yang lain di Bali mulai mengembangkan tari kecak sehingga di seluruh Bali terdapat puluhan group kecak dimana anggotanya biasanya para anggota banjar.

Kegiatan kegiatan seperti festival tari Kecak juga sering dilaksanakan di Bali baik oleh pemerintah atau pun oleh sekolah seni yang ada di Bali. Serta dari jumlah penari terbanyak yang pernah dipentaskan dalam tari kecak tercatat pada tahun 1979 dimana melibatkan 500 orang penari. Pada saat itu dipentaskan kecak dengan mengambil cerita dari Mahabarata. Namun rekor ini dipecahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5000 penari pada tanggal 29 September 2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Pola Tari Kecak

Sebagai suatu pertunjukan tari kecak didukung oleh beberapa factor yang sangat penting, Lebih lebih dalam pertunjukan kecak ini menyajikan tarian sebagai pengantar cerita, tentu musik sangat vital untuk mengiringi lenggak lenggok penari. Namun dalam dalam Tari Kecak musik dihasilkan dari perpaduan suara angota cak yang berjumlah sekitar 50 – 70 orang semuanya akan membuat musik secara akapela, seorang akan bertindak sebagai pemimpin yang memberika nada awal seorang lagi bertindak sebagai penekan yang bertugas memberikan tekanan nada tinggi atau rendah seorang bertindak sebagai penembang solo, dan sorang lagi akan bertindak sebagai ki dalang yang mengantarkan alur cerita.

Penari dalam tari kecak dalam gerakannya tidak mestinya mengikuti pakem-pakem tari yang diiringi oleh gamelan. Jadi dalam tari kecak ini gerak tubuh penari lebih santai karena yang diutamakan adalah jalan cerita dan perpaduan suara.

Via kebudayaanindonesia.net

12 Suku Yang Berada Di Aceh


1. Suku Aceh
Suku Aceh (bahasa Aceh: Ureuëng Acèh) adalah nama sebuah suku penduduk asli yang mendiami wilayah pesisir dan sebagian pedalaman Provinsi Aceh, Indonesia. Suku Aceh mayoritas beragama Islam. Bahasa yang dituturkan adalah bahasa Aceh, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat dan berkerabat dekat dengan bahasa Cham yang dipertuturkan di Vietnam dan Kamboja. Suku Aceh sesungguhnya merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa yang menetap di tanah Aceh. Pengikat kesatuan budaya suku Aceh terutama ialah dalam bahasa, agama, dan adat khas Aceh.

Berdasarkan estimasi terkini, jumlah suku Aceh mencapai 4.477.000 jiwa, yang sebagian besar bertempat tinggal di Provinsi Aceh, Indonesia. Sedangkan menurut hasil olahan data sensus BPS 2010 oleh Aris Ananta dkk., jumlah suku Aceh di Indonesia adalah sebanyak 3.404.000 jiwa. Selain di Indonesia, terdapat pula minoritas diaspora yang cukup banyak di Malaysia, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan negara-negara Skandinavia.

Suku Aceh pada masa pra-modern hidup secara matrilokal dan komunal. Mereka tinggal di pemukiman yang disebut gampong. Persekutuan dari gampong-gampong membentuk mukim. Masa keemasan budaya Aceh dimulai pada abad ke-16, seiring kejayaan kerajaan Islam Aceh Darussalam, dan kemudian mencapai puncaknya pada abad ke-17. Suku Aceh pada umumnya dikenal sebagai pemegang teguh ajaran agama Islam, dan juga sebagai pejuang militan dalam melawan penaklukan kolonial Portugis dan Belanda.

2. Suku Aneuk Jamee
Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat dan selatan Aceh. Dari segi bahasa, diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau.

Namun, akibat pengaruh proses asimilasi kebudayaan yang cukup lama, kebanyakan dari Suku Aneuk Jamee, terutama yang mendiami kawasan yang didominasi oleh Suku Aceh, misalnya di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Bahasa Aneuk Jamee hanya dituturkan di kalangan orang-orang tua saja dan saat ini umumnya mereka lebih lazim menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari (lingua franca). Adapun asal mula penyebutan “Aneuk Jamee” diduga kuat dipopulerkan oleh Suku Aceh setempat, sebagai wujud dari sifat keterbukaan Orang Aceh dalam memuliakan kelompok warga Minangkabau yang datang mengungsi (eksodus) dari tanah leluhurnya yang ketika itu berada di bawah cengkraman penjajah Belanda. Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari Bahasa Aceh yang berarti “anak tamu”.

3. Suku Alas
Suku Alas merupakan salah satu suku yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh (yang juga lazim disebut Tanah Alas). Kata “alas” dalam bahasa Alas berarti “tikar”. Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah Lawe Alas (Sungai Alas).

Sebagian besar suku Alas tinggal di pedesaan dan hidup dari pertanian dan peternakan. Tanah Alas merupakan lumbung padi untuk daerah Aceh. Tapi selain itu mereka juga berkebun karet, kopi, dan kemiri, serta mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan binatang yang mereka ternakkan adalah kuda, kambing, kerbau, dan sapi.

Kampung atau desa orang Alas disebut kute. Suatu kute biasanya didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Pola hidup kekeluargaan mereka adalah kebersamaan dan persatuan. Mereka menarik garis keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge lain.

Suku Alas 100% adalah penganut agama Islam. Namun masih ada juga yang mempercayai praktik perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian. Mereka melakukan upacara-upacara dengan latar belakang kepercayaan tertentu agar pertanian mereka mendatangkan hasil baik atau terhindar dari hama.

4. Suku Batak Pakpak
Suku Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Pulau Sumatera Indonesia dan tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh, yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan( Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Sabulusalam.

Suku Pakpak terdiri atas 5 subsuku, dalam istilah setempat sering disebut dengan istilah Pakpak Silima suak yang terdiri dari :
Pakpak Klasen (Kab. Humbang Hasundutan Sumut)
Pakpak Simsim (Kab. Pakpak Bharat-sumut)
Pakpak Boang (Kab. Singkil dan kota Sabulusalam-Aceh)
Pakpak Pegagan (Kab. Dairi-sumut)
Pakpak Keppas (Kab. Dairi sumut)
Dalam administrasi pemerintahan Suku Pakpak banyak bermukim di wilayah Kabupaten Dairi di Sumatera Utara yang kemudian dimekarkan pada tahun 2003 menjadi dua kabupaten, yakni:
Kabupaten Dairi (ibu kota: Sidikalang)
Kabupaten Pakpak Bharat (ibu kota: Salak)
Suku Pakpak juga berdomisili di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah. Suku Pakpak yang tinggal di wilayah tersebut menamakan diri sebagai Pakpak Klasen.

Suku Pakpak juga bermukim di wilayah Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Singkil dan kota Sabulusalam yang disebut sebagai Pakpak Boang.
Suku Pakpak yang berdiam di Kabupaten Pakpak Bharat adalah Pakpak Simsim, sedangkan yang tinggal di kota Sidikalang dan sekitarnya merupakan suku Pakpak Keppas dan yang bermukim di Sumbul sekitarnya adalah Pakpak Pegagan. Suku bangsa Pakpak mendiami bagian Utara, Barat Laut Danau Toba sampai perbatasan Sumatra Utara dengan provinsi Aceh (selatan). Suku bangsa Pakpak kemungkinan besar berasal dari keturunan tentara kerajaan Chola di India yang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad 11 Masehi.

5. Suku Devayan
Suku Devayan merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue. Suku ini mendiami kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam.

6. Suku Gayo
Suku Gayo atau "urang gayo" adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah, Populasinya berjumlah kurang lebih 600.000 jiwa. Orang Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah (sekitar 30 - 45%) dan Gayo Lues (sekitar 50 - 70%) dan sebagian wilayah Aceh Tenggara dan 3 Kecamatan di Aceh Timur yaitu Serbejadi, Peunaron, dan Simpang Jernih. Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya dan mereka menggunakan Bahasa Gayo dalam percakapan sehari-hari mereka.

7. Suku Haloban
Suku Haloban merupakan suatu suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di kecamatan Pulau Banyak. Kecamatan Pulau Banyak merupakan suatu kecamatan yang terdiri dari 7 desa dengan ibukota kecamatan terletak di desa Pulau Balai.

8. Suku Kluet
Suku Kluet adalah sebuah suku yang mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, yaitu kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

9. Suku Lekon
Suku Lekon adalah sebuah suku bangsa yang terdapat di kecamatan Alafan, Simeulue di provinsi Aceh. Suku ini terdapat di desa Lafakha dan dan Langi.

10. Suku Singkil
Suku Singkil adalah sebuah suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil daratan dan kota Subulussalam di propinsi Aceh. Kedudukan suku Singkil sampai saat ini masih diperdebatkan, apakah termasuk dalam suku Pakpak suak Boang atau berdiri sebagai satu suku yang tersendiri terpisah dari suku Pakpak.

11. Suku Sigulai
Suku Sigulai merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue bagian utara. Suku ini terdapat di kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.

12. Suku Tamiang
Penduduk utama kabupaten Aceh Tamiang adalah suku Melayu atau lebih sering disebut Melayu Tamiang. Mereka mempunyai kesamaan dialek dan bahasa dengan masyarakat Melayu yang tinggal di kabupaten Langkat, Sumatera Utara serta berbeda dengan masyarakat Aceh. Meski demikian mereka telah sekian abad menjadi bagian dari Aceh. Dari segi kebudayaan, mereka juga sama dengan masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera lainnya.

Kuda Lumping Kesenian Tradisional Dari Jawa Tengah


Kesenian satu ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang terkenal di pulau Jawa, khususnya Jawa tengah dan sekitarnya. Namanya adalah Kuda Lumping.

Apakah Kuda Lumping itu?

Kuda Lumping adalah salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok prajurit penunggang kuda. Kuda yang di gunakan dalam tarian ini bukanlah kuda sungguhan, namun kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dibentuk dan dihias menyerupai kuda. Tarian ini sangat populer di masyarakat Jawa, khususnya Jawa tengah dan sekitarnya.

Selain Kuda Lumping, tarian ini juga sering di sebut “Jaran kepang” karena bentuk dari kuda yang di hiasi dengan rambut tiruan terbuat dari tali plastic dan di hias dengan cara di kepang. Selain menyuguhkan gerak tari, tarian ini juga terdapat unsur magis karena setiap pertunjukannya ada beberapa penari yang kesurupan dan beberapa ritual yang di lakukan dalam tarian ini. Selain itu ada beberapa atraksi berbahaya yang di pertontonkan seperti memakanbeling, menyayat diri, berjalan di atas pecahan kaca dan beberapa atraksi berbahaya lainnya. Tarian ini merupakan pengembangan dari kesenian “Jatilan”. Walaupun masih terdapat beberapa unsur seperti kesurupan dan atraksi berbahaya, namun pada Kuda Lumping ini lebih mengutamakan gerakan tari yang menggambarkan jiwa kepahlawanan para prajurit berkuda dalam peperangan.

Dalam pertunjukannya, Penari Kuda Lumping biasanya terbagi menjadi 3 bagian. Pada bagian pertama biasanya dilakukan oleh beberapa penari wanita, dengan menunggangi kuda mereka menari dengan gerakan yang lembut dan dinamis. Kemudian pada bagian kedua, biasanya dimainkan oleh beberapa penari pria. Pada bagian ini para penari menari dengan gerakan yang menggambarkan keberanian para prajurit penunggang kuda di medan pertempuran. Dan yang terakhir adalah bagian yang dimainkan oleh beberapa pria yang menunggangi kuda. Sambil memainkan pecut, mereka menari mengikuti iringan musik. Pada bagian ini beberapa penari mengalami kesurupan dan dengan keadaan tidak sadar mereka melakukan beberapa atraksi berbahaya seperti memakan beling, menyayat diri, berjalan di atas pecahan kaca dan beberapa atraksi berbahaya lainnya. Dalam menyuguhkan pertunjukan Kuda Lumping ini setiap grup atau daerah memiliki kreasi tersendiri dalam menampilkannya, namun tetap tidak meninggalkan keaslian dalam kesenian tersebut.

Dalam pertunjukan Kuda Lumping ini biasanya dikawal oleh beberapa pawang atau dukun untuk mengantisipasi hal – hal yang tidak di inginkan. Sebelum pertunjukan dimulai biasanya ada beberapa ritual yang dilakukan oleh para dukun yaitu memberikan sesaji dan membacakan doa agar di jauhkan dari mara bahaya. Selain melakukan ritual, dukun juga ditugaskan untuk mengawal para penari yang kesurupan saat melakukan atraksi  agar tidak terjadi hal – hal yang tidak di inginkan dan menyembuhkan para penari dari keadaan kesurupan.

Kostum yang di gunakan dalam pertunjukan Kuda Lumping biasanya adalah pakaian para prajurit dengan menggunakan baju lengan panjang atau pendek, namun ada juga yang menggunakan rompi, bahkan tidak memakai baju. Pada bagian bawah menggunakan celana pendek sampai bawah lutut dan di hiasi dengan beberapa hiasan warna – warni dan kain bermotif batik. Untuk bagian kepala biasanya menggunakan mahkota ataublangkon. Aksesoris yang di gunakan adalah gelang tangan, gelang kaki, ikat pinggang, keris dan penutup dada.

Property yang di gunakan dalam pertunjukan Kuda Lumping ini adalah kuda kepang, namun setiap bagian penari berbeda - beda. Untuk penari wanita pada bagian pertama biasanya menggunakan selendang sebagai propertinya. Karena yang di utamakan pada bagian ini adalah tarian para penarinya. Namun ada juga yang menggunakan property seperti pedang. Untuk penari pria pada bagian kedua biasanya di menggunakan property seperti pedang. Karena pada bagian ini menggambarkan para prajurit berkuda di medan perang. Untuk bagian ketiga biasanya menggunakan property pecut. Pada bagian ini para penari menari menunggangi kuda dengan memainkan pecut seirama dengan musik pengiring sehingga menimbulkan suara yang khas. Dalam pertunjukan Kuda Lumping biasanya di iringi dengan beberapa instrument musik gamelan seperti kendang, bende, gong, kenong, demung, kecek dan lain – lain.

Dalam perkembangannya, kesenian Kuda Lumping ini tidak hanya terkenal di Jawa saja, namun juga terkenal di seluruh Indonesia. Tarian ini sering diadakan di berbagai acara seperti penyambutan tamu terhormat dan festival budaya di beberapa daerah di pulau Jawa terutama di Jawa tengah. Seiring dengan perkembangan jaman, semakin banyak pula kreasi yang di tambahkan oleh para seniman Kuda Lumping pada setiap pertunjukannya. Hal ini di lakukan dalam rangka melestarikan dan membuat pertunjukan lebih menarik, namun tetap tidak meninggalkan ciri khas dari kesenian tersebut.

Nah cukup sekian pengenalan tentang “Kuda Lumping Kesenian Tradisional dari Jawa tengah”. Semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentangkesenian tradisional di Indonesia.

The Indonesian Keroncong Center, Suami dan Istri Penyelamat Musik Keroncong


Wawancara Dr. R.H. Soetomo dan Ny Siti Budhy Hartini  Soetomo

Semangat nasionalisme saat ini memang menjadi hal yang penting. Banyak yang menggunakan musik sebagai perantara aspirasinya. Tetapi musik yang menjadi identitas bangsa, atau yang bersatu dengan budaya tanah air? Pemuda sekarang harus mengenal dan mendayagunakannya juga. Sebagai seni yang dimiliki Indonesia, musik Keroncong telah melalui berbagai masa perjuangan Indonesia. 

Musik ini turut mengekspresikan perlawanan dan semangat merdeka. Hal ini menjadi perhatian bagi Dr. R.H. Soetomo beserta istrinya, Ny. Siti Budhy Hartini Soetomo, dalam mengangkat citra Keroncong sebagai identitas Indonesia. Benar-benar identitas, karena ada bersama para pelaku perjuangan hingga berdirinya negara Indonesia yang merdeka.

Sore itu kami bertemu dengan Dr. R. H Soetomo dan Isterinya dan mengajak cucu laki-lakinya, baru saja pulang dari daerah Jogyakarta, tepatnya dari Goa Selarong. Goa itu adalah tempat bersejarah ketika Pangeran Diponegoro beserta Istri dan para pengikutnya bertahan dan menghimpun kekuatan di Goa tersebut dalam perlawanannya mengusir kolonial dari Bumi Indonesia tercinta. Pantas saja suami istri ini hebat nasionalismenya. Ternyata cara mendidik cinta bangsa pada cucunya yang berumur 6 tahun inipun  sampai diajak serta napak tilas sejarah seperti ini.

Saya tertarik mendalami  dengan mewawancarai Dr. R.H. Soetomo dan isterinya itu memang setelah melihat Pagelaran Akbar Keroncong di Taman Ismail Marzuki yang sudah dilaksanakan beberapa kali. Kedua, yang membuat saya tertarik adalah temanya yang selalu mengedepankan sejarah Indonesia dan ada keterlibatan Keroncong dalam ruang dan waktu (kurun sejarah) itu. Dan yang ketiga adalah perjuangan tanpa kenal lelah dengan semboyan “Keroncong Tidak Boleh Mati“

The Indonesian Keroncong Center Bertempat di bilangan Pulo Asem, Jakarta, tempat ini menjadi lab bagi Dr. R. H. Soetomo dan istrinya mengupayakan agar keroncong tidak mati seperti yang dicita-citakan. Dokter dan Istrinya ini beberapa kali mengadakan event keroncong mulai dari penciptaan lagu keroncong, penyelenggaraan lomba Keroncong, dan pagelaran akbar.

Kegiatan lain yang pernah dilakukan adalah memberi penghargaan pada musisi keroncong yang dianggap berjuang untuk Bangsa Indonesia, menyantuni  musisi keroncong Pembela Bumi Pertiwi, dan merawat Gesang –Maestro keroncong – sampai akhir hayatnya. Upaya kegigihan The Indonesian Keroncong Center diakui oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Dalam pementasan akbarnya tahun ini,The Indonesian Keroncong Center menjadi kontributor untuk Pariwisata Indonesia.

Persembahan The Indonesian Keroncong Center kepada Presiden Jokowi adalah dengan menciptakan sebuah lagu berjudul “Keroncong Jokowi “ Siapakah  Dr. R. H. Soetomo dan Istrinya itu ?

Wawancara dengan Dr. R. H. Soetomo

T :  Sebagai keluarga Muslim kenapa justru Bapak tertarik pada budaya Keroncong?

J  :  Bagi saya yang muslim, Allah itu menyukai keindahan dan kesyahduan. Musik keroncong tentu saja keindahan dan kesyahduan seperti sebuah penggalan bait dalam Lagu “Oh Tuhanku, Aku mengetuk pintuMu..., Tak kuasa kumelangkah ......”. Lagu itu akan mengasah hati pendengar untuk menebalkan imannya. Naah musik keroncong pun turut andil dalam pengimanan manusia yang lemah seperti kita ini.

T :  Saya melihat Pagelaran Bapak ini sangat kental dengan nuansa sejarah Indonesia meskipun tampilannya adalah budaya dalam Seni Musik Keroncong. Begitu yang saya tangkap, kenapa Pak ?

 J  :  Naah itu seperti dalam turut andilnya dalam penebalan keimanan tadi. Musik keroncong pun akan mempunyai kontribusi dalam penanaman nasionalisme bangsa, lagu-lagu keroncong menyertai sejarah Bangsa Indonesia. Lagu Sepasang Mata Bola, Bung, Jembatan Merah, Candra Buana..... itu lagu-lagu yang tercipta ketika bangsa kita berjuang dalam Kemerdekaannya. Pada waktu merdeka, lagu-lagu itu dinyanyikan. Kehadirannya menimbulkan kenangan masa berjuang. Pada masa kini, sebagai hadiah dokumentasi pada anak cucu bangsa bahwa pendahulunya adalah pencipta karya-karya yang besar, yang menghargai bangsanya. 

T    :  Luar biasa pak, saya merinding mendengar ini pak. Bagaimana bapak bisa kompak dengan Isteri memperjuangkan ini semua pak ? 

J   : Kesamaan pandang.  Jadi, saya dan istri saya mempunyai kesamaan  dalam melihat Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat. Keroncong menjadi musik khas Indonesia yang akan mengangkat derajat Bangsa Indonesia. Keunikan keroncang mewakili karakter Indonesia yang pas.

T  : Caranya bagaimana pak ? 

J   : Jiwa mencintai bangsa, itu bisa didapat karena mengalami, membaca, dan mendalami apa yang ditinggalkan para pendahulu. Saya dan istri saya mengalami peristiwa sejarah itu namun kita juga membaca dan mendalami yang ditinggalkan para pendahulu. Kami berkeyakinan mencintai negara adalah bukti keimanan kami.   Wawancara Dengan Ny. Siti Budhy Hartini Soetomo. 

T  : Ibu mendampingi bapak dalam kegiatan langkah seperti ini, bagaimana bu?

J   : Justru karena langkah itu saya jadi tertantang mendampingi bapak.

T  : Apakah dengan begitu , ibu memang orang menyukai tantangan dalam kehidupan? 

J  : Dikatakan seperti itu bisa juga, namun dalam agama menuntut ilmu itu merupakan kewajiban dari lahir sampai liang lahat. Mendalami musik keroncong bersama-sama dengan bapak atau suami saya. Bagi kami, ini menuntut ilmu juga . Karena saya dan suami juga harus belajar banyak mendalami keroncong dan sekaligus menerapkan dalam kehidupan keroncong itu di jaman sekarang ini. 

T   : Bagus ya bu, pemikiran ibu dan bapak. Tapi apa yang diharapkan ibu dalam kegiatan seperti ini?

J    : Berbagi ilmu dengan para wanita. 

T   : Kenapa bu kok berbagi ilmu dengan para wanita? Saya belum menangkap benang merahnya. 

J  : Hm... para wanita yang menjadi istri harus mengembangkan talentanya. Bila bingung untuk mengembangkan talentanya yang mana, mungkin mencari talentanya justru ada bersama suaminya.

Talenta saya ada bersama suami saya dan saya mengembangkan dengan maksimal.   Terdapat banyak penghargaan yang diberikan kepada Dr. R.H. Soetomo seperti penghargaan atas pembinaan dan mengembangkan Keroncong di Kota Bandung, sebagai tokoh Keroncong Indonesia oleh Panitia Apresiasi Keroncong Bandung – Cimahi, ditandatanganinya prasasti peresmian The Indonesian keroncong Center oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, dan masih banyak lagi.

Sebuah teladan yang juga tidak kalah mulianya adalah Ny. Budhy, sebagai seorang isteri, juga turut menjadi berperan. Selain mendukung suami, beliau juga sungguh-sungguh dalam mendampingi sehingga menjadi media pengembangan diri.

Keduanya telah membuktikan kesungguhan memberikan manfaat kepada negara, seni, budaya, dan orang-orang yang berperan penting di dalamnya. Para musisi Keroncong juga berperan besar dalam suksesnya pembinaan dan pengembangan Keroncong. Menurut Bapak SG Subagyo, ketika menjabat sebagai Kepala Wilayah Asper Jakarta 1 yang juga pernah menjabat sebagai direktur pemasaran Bumida 196 anak perusahaan AJB Bumiputera 1912, mengatakan “Tidak ada orang seperti Bapak Dr. R. H. Soetomo yang memperhatikan para nasib seniman keroncong untuk diasuransikan”

Penulis / Pewawancara : Dra. Novi Saptina via kompasiana.com

Jenis - Jenis Wayang Asli Indonesia


Tentu saja, kita semua sudah akrab dengan tradisi Indonesia yang satu ini: wayang. Dalam bahasa Jawa, istilah “wayang ” diartikan sebagai “bayang”, mengacu pada sebuah teater tuturan yang menggunakan teknik bayangan dan efek cahaya dan diiringi oleh musik gamelan. Kata wayang juga sering mengacu pada boneka wayang itu sendiri. Boneka ini dikendalikan dan disuarakan oleh “dalang” dalam pertunjukan yang dapat berlangsung selama berjam-jam. Sebagian besar pertunjukan didasarkan pada dua cerita epik dari India—Mahabarata dan Ramayana.

Di Bali dan Jawa, pertunjukan wayang cenderung menggabungkan kisah-kisah Hindu dengan ide-ide Buddhis, Islam, serta cerita-cerita rakyat dan mitos.
Di Indonesia, ada beragam jenis wayang. Wayang hadir dalam berbagai bentuk, ukuran, dan medium, termasuk dalam bentuk gulungan gambar, kulit, kayu, dan topeng. Namun, ada 5 jenis wayang yang paling populer yang akan saya sebutkan di bawah ini. Mereka adalah:

1. Wayang beber
Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang tertua di Indonesia. Dalam pertunjukan narasi ini, lembaran gambar panjang dijelaskan oleh seorang dalang. Wayang beber tertua dapat ditemukan di Pacitan, Donorojo, Jawa Timur. Selain dari kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, wayang beber juga menggunakan kisah-kisah dari cerita rakyat, seperti kisah asmara Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.

2. Wayang kulit
Di Jawa Tengah dan Timur, jenis wayang yang paling populer adalah wayang kulit atau  wayang kulit purwa. Wayang ini berbentuk pipih dan terbuat dari kulit kerbau atau kambing. Lengan dan kakinya bisa digerakkan. Di Bali dan Jawa, pertunjukan wayang kulit sering kali menggabungkan cerita-cerita Hindu dengan Budha dan Islam. Selain kisah-kisah religius, cerita-cerita rakyat serta mitos sering digunakan.

3. Wayang Klitik (atau Karucil)
Bentuk wayang ini mirip dengan wayang kulit, namun terbuat dari kayu, bukan kulit. Mereka juga menggunakan bayangan dalam pertunjukannya. Kata “klitik” berasal dari suara kayu yang bersentuhan di saat wayang digerakkan atau saat adegan perkelahian, misalnya. Kisah-kisah yang digunakan dalam drama wayang ini berasal dari kerajaan-kerajaan Jawa Timur, seperti Kerajaan Jenggala , Kediri, dan Majapahit. Cerita yang paling populer adalah tentang Damarwulan. Cerita ini dipenuhi dengan kisah perseturan asmara dan sangat digemari oleh publik.

4. Wayang golek
Pertunjukan ini dilakukan menggunakan wayang tiga dimensi yang terbuat dari kayu. Jenis wayang ini paling populer di Jawa Barat. Ada 2 macam wayang golek, yaitu wayang golek papak cepak dan wayang golek purwa. Wayang golek yang banyak dikenal orang adalah wayang golek purwa. Kisah-kisah yang digunakan sering mengacu pada tradisi Jawa dan Islam, seperti kisah Pangeran Panji, Darmawulan, dan Amir Hamzah, pamannya Nabi Muhammad a.s.

5. Wayang wong
Jenis wayang ini adalah sebuah drama tari yang menggunakan manusia untuk memerankan tokoh-tokoh yang didasarkan pada kisah-kisah wayang tradisional. Cerita yang sering digunakan adalah  Smaradahana. Awalnya, wayang wong dipertunjukkan sebagai hiburan para bangsawan, namun kini menyebar menjadi bentuk kesenian populer.

Melissa Voets via belindomag.nl